Rabu, 16 Januari 2008

PENGGUNAAN KONDOM BUKAN JAMINAN BEBAS HIV

Penggunaan kondom bukan jaminan seseorang bebas tertular virus HIV karena alat kontrasepsi tersebut memiliki pori-pori yang memungkinankan untuk ditembus virus.

"Penggunaan kondom untuk cegah HIV tidak aman 100 persen," kata psikiater dan guru besar FK UI Prof Dr dr Dadang Hawari, di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, pada dasarnya fungsi kondom adalah untuk mencegah masuknya sperma bukan untuk membendung serangan virus.

Menurut dia, penggunaan kondom dalam program KB (keluarga Berencana) saja mengalami kegagalan hingga 20 persen.

"Padahal perbandingan sprema dengan virus itu mencapai 450 banding 1," katanya.

Kondom terbuat dari karet (latex) yang merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi (berserat dan berpori bagaikan tenunan kain).

Pori-pori tersebut hanya dapat dilihat melalui mikroskop dengan lensa elektron.

Besarnya pori-pori kondom dalam keadaan tidak meregang sebesar 1/60 mikron dan saat meregang 10 kali lebih besar ukurannya.

"Padahal ukuran virus HIV itu kira-kira sebesar 1/250 mikron," katanya.

Dadang mencontohkan, kondom yang beredar di pasaran Amerika Serikat yang terkenal sebagai kualitas terbaik saja mengalami kebocoran hingga 30 persen (di luar pori-pori kondom).

"Kondom yang dijual di Indonesia di pinggir jalan, di tempat yang kena sinar matahari atau lampu langsung, dan apalagi yang sudah kadaluarsa, tidak ada jaminan efektif cegah HIV," katanya.

Menurut dia, alat kontrasepsi latex itu harus disimpan di tempat yang berhawa dingin (20 derajat C) dan kering.

"Kondom bila dipakai pada alat kelamin laki-laki pada suhu 37 derajat dan liang senggama perempuan juga pada suhu 37 derajat, tidak ada jaminan tidak ditembus HIV," katanya.

Kondom idealnya mempunyai cacat lubang kecil mikroskopis (pinholes) maksimum 0,4 persen berdasarkan uji kebocoran dengan pengisian 30 ml air pada suhu kamar. Dengan luas kondom ideal sebesar 80 cm2.

Saat ini badan POM di Amerika Serikat (FDA) telah memberikan persyaratan pada setiap perusahaan kondom agar mencantumkan peringatan di setiap kemasan yang berbunyi bahwa kondom untuk sperma bukan untuk virus.

Menurut Dadang cara untuk menghindari tertular HIV adalah tidak melakukan seks bebas, perselingkuhan, pelacuran, dan homoseksual.

"Pastikan juga darah untuk transfusi tidak tercemar HIV dan selalu gunakan jarum suntik yang baru dan steril," katanya.

Tanpa kondom:
Para ilmuwan tengah mencoba mengembangkan sebuah cara baru untuk mencegah penularan HIV, tanpa menggunakan kondom.

Penelitian yang dimuat di Jurnal Pengobatan Alamiah menunjukkan, untuk pertama kalinya sebuah mikrobisida, bahan kimia yang mampu membunuh mikroorganisma, bisa menghentikan meluasnya HIV.

Jutaan dollar telah dikucurkan untuk membiayai penelitian, yang ditujukan melindungi wanita, agar tidak mengidap penyakit-penyakit yang menular melalui hubungan seksual.

Microbisida, yang tengah dikembangkan dalam bentuk jel atau cairan padat, sepon busa, atau alat pencegah kehamilan, bisa digunakan oleh para wanita sebelum melakukan hubungan seksual.

Selama ini, kondom dinilai sebagi alat pencegah tertularnya HIV melalui hubungan seksual.

Cara kerja metode ini adalah, mikrobisida mencegah virus memasuki sel-sel rapuh di dalam tubuh.

Soalnya, HIV ini akan membuat pertahanan tubuh menjadi melemah.

Sekelompok ilmuwan dari Inggris dan Amerika Serikat memasukkan jel mikrobisida yang mengandung antibodi manusia ke dalam vagina monyet-monyet Macaque, spesies monyet yang hidup di Brazil.

Ternyata, jel ini bisa melindungi monyet-monyet tersebut dari virus HIV monyet, selama lebih dari tujuh jam.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas infonya....